Diplomasi Bahasa dan Budaya: Memperkuat Internasionalisasi Bahasa Indonesia lewat Kolaborasi Akademis Indonesia–Thailand
Bahasa
Indonesia kian mengukuhkan eksistensinya sebagai salah satu bahasa yang
diminati di ranah internasional. Tren positif ini terlihat dari meluasnya
pengajaran Bahasa Indonesia di berbagai institusi pendidikan di Australia,
serta pesatnya perkembangan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)
di Thailand.
Dalam
seminar bertajuk “Strengthening Indonesian Language Internalization through
Indonesia-Thailand Academic Collaboration”, isu strategis mengenai BIPA, Mobility, and Cultural Diplomacy
dikaji secara mendalam oleh dua narasumber ahli, yakni Dr. Djusmalinar
Djamarin, M.A. dan Dr. Riki Nasrullah, M.Hum.
Pada
sesi pertama, Ibu Djusmalinar memaparkan topik “Mobilitas BIPA di Prince of
Songkla University, Kampus Pattani: Cara Ampuh untuk Menarik Mahasiswa”.
Berdasarkan pengalamannya mengajar selama dua dekade di Thailand, beliau menekankan
bahwa mobilitas BIPA merupakan instrumen diplomasi budaya yang sangat efektif.
Melalui program inovatif seperti Mobility
Wonderful Indonesia, mahasiswa dari pelbagai latar belakang disiplin
keilmuan diajak mempelajari bahasa sekaligus mendalami kebudayaan Nusantara,
salah satunya lewat pementasan seni Indonesia (Indonesian arts) di auditorium
kampus.
Kendati
demikian, pengajaran BIPA di luar negeri tidak lepas dari tantangan dinamis,
terutama menyangkut keberagaman latar belakang budaya dan agama peserta didik.
Oleh sebab itu, pengajar BIPA dituntut memiliki kompetensi holistic yakni menguasai
Bahasa Indonesia yang baik dan benar (baik ragam baku maupun populer/gaul),
mahir berbahasa asing, serta memiliki pemahaman lintas budaya yang kuat. Materi
pembelajaran pun wajib disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan
kontekstual di tiap negara. Mengingat pembelajaran BIPA kini telah terstruktur
dalam tujuh tingkatan standardisasi, sertifikasi bagi para pengajar menjadi
krusial guna menjamin mutu dan profesionalisme pengajaran.
Selanjutnya,
Dr. Riki Nasrullah, M.Hum., mengulas materi “Menata Jalan Internasionalisasi
Bahasa Indonesia”. Beliau menggarisbawahi pentingnya landasan filosofis dalam
diplomasi bahasa. “Jika kita ingin menguasai suatu negara, maka kuasai dulu
bahasanya,” tegas Bapak Riki dalam pemaparannya.
Lebih
lanjut, Bapak Riki menjelaskan bahwa momentum internasionalisasi Bahasa
Indonesia makin kuat pascapenetapannya sebagai salah satu bahasa resmi pada
Sidang Umum UNESCO tahun 2023. Capaian historis ini didorong oleh beberapa
upaya strategis pengembangan bahasa, di antaranya melalui perencanaan status
(status planning), perencanaan korpus (corpus planning), hingga perencanaan
akuisisi (acquisition planning). Langkah-langkah tersebut memastikan Bahasa
Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara,
melainkan juga bertransformasi menjadi sarana komunikasi ilmiah dan diplomasi
global.
Untuk
mewujudkan visi besar tersebut, Bapak Riki menegaskan pentingnya kolaborasi berbasis
model pentahelix yang menyinergikan peran akademisi, pemerintah, institusi
pendidikan, industri penerbitan, media, serta masyarakat luas. Penyusunan dan
pengembangan bahan ajar BIPA di luar negeri pun perlu menaruh perhatian penuh
pada sensitivitas serta diferensiasi kultural lokal, sehingga tidak
disamaratakan begitu saja dengan kurikulum pembelajaran domestik di Indonesia.
Pada
akhirnya, upaya internasionalisasi Bahasa Indonesia bukan sekadar transfer
linguistik, melainkan sebuah ikhtiar strategis untuk membawa kebudayaan,
nilai-nilai, dan identitas kolektif bangsa Indonesia ke panggung dunia.