Kuliah Umum PBSI Kampus 5 Unesa Angkat Tema “Bahasa dan Sastra Indonesia”
Magetan, 6 Oktober 2025 — Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Kampus 5 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar kuliah umum dengan tema “Bahasa dan Sastra di Era Digital: Peluang dan Tantangan untuk Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.” Kegiatan yang berlangsung di Ruang MG1.01.07 Kampus 5 Unesa ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, serta civitas akademika.
Kuliah umum ini
menjadi ajang penting bagi mahasiswa PBSI untuk memahami perkembangan mutakhir
dunia bahasa dan sastra di tengah transformasi digital yang semakin pesat.
Sambutan pertama
disampaikan oleh Kaprodi PBSI, Dr. Riki Nasrullah, M.Hum. Dalam sambutannya,
beliau menekankan pentingnya adaptasi dan inovasi mahasiswa dalam menghadapi
era digital yang telah mengubah cara manusia berbahasa dan berkarya sastra.
“Mahasiswa PBSI
harus mampu menjadi pelopor literasi digital yang kritis dan kreatif. Bahasa
dan sastra kini tidak hanya hidup di kertas, tetapi juga di ruang maya yang
dinamis dan interaktif,” ujar Dr. Riki.
Sementara itu,
Direktur PSDKU Kampus 5 Unesa, Prof. Dr. Sarmini, M.Hum. dalam sambutannya
menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya,
kuliah umum ini merupakan langkah nyata PBSI dalam mempersiapkan mahasiswa
menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
“Era digital
menuntut penguasaan teknologi dan literasi yang kuat. Mahasiswa PBSI harus
mampu memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan pembelajaran dan riset sastra
yang lebih inovatif,” tutur Prof. Sarmini.
Puncak acara diisi
oleh pemaparan Prof. Setya Suwanta Sudikan, M.A., Ketua Senat Akademik
Universitas Negeri Surabaya, yang menjadi narasumber utama. Dalam materinya,
Prof. Yu, membahas secara mendalam tentang penelitian sastra dan penelitian
sastra elektronik, dua bidang yang kini semakin relevan dalam kajian akademik
modern. Beliau menjelaskan bahwa penelitian sastra tidak lagi terbatas pada
teks cetak, melainkan juga merambah karya sastra digital yang berkembang di
berbagai platform media sosial dan situs daring.
“Fenomena sastra
digital menunjukkan bahwa karya sastra kini hadir dalam bentuk baru seperti
puisi media sosial, cerita interaktif, hingga video literer. Peneliti sastra
harus peka terhadap perubahan ini,” jelas Prof. Yu.
Kuliah umum ini
berlangsung interaktif. Para mahasiswa tampak antusias mengajukan pertanyaan
seputar metode penelitian sastra digital, bentuk ekspresi sastra elektronik,
serta tantangan etis dalam riset berbasis media daring. Diskusi yang hangat
tersebut menegaskan semangat akademik mahasiswa PBSI untuk terus mengasah
wawasan dan kemampuan literasinya.
Dengan
terselenggaranya kegiatan ini, PBSI Kampus 5 Unesa menegaskan komitmennya untuk
menjadi pusat pengembangan ilmu kebahasaan dan kesastraan yang adaptif terhadap
perkembangan zaman. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata sinergi antara dosen,
mahasiswa, dan pimpinan kampus dalam memperkuat tradisi akademik yang
berorientasi pada inovasi, teknologi, dan budaya literasi.
Semoga kegiatan serupa terus digelar sebagai wadah penguatan kompetensi mahasiswa PBSI Unesa dalam menghadapi peluang dan tantangan bahasa serta sastra di era digital.
#PBSI_Bermartabat_Berkhidmat