Metafora dalam Puisi Semakin Diminati, Jadi Cara Baru Ungkapkan Realitas
Kampus Unesa 5 Magetan kembali mengadakan sebuah kegiatan
bermakna, yaitu Kuliah Umum. Dengan menghadirkan pemateri hebat, Andik
Yulianto, S.S., M.Si. Metafora kembali menjadi sorotan dalam dunia sastra Indonesia.
Para penikmat puisi, mulai dari pelajar hingga komunitas literasi, menilai
bahwa gaya bahasa ini menjadi jembatan paling efektif untuk menyampaikan
gagasan yang sulit, abstrak, bahkan emosional.
Dalam berbagai kegiatan
apresiasi puisi, penggunaan metafora disebut mampu “menghidupkan” makna. Tidak
hanya memperindah bahasa, metafora juga memberi ruang bagi pembaca untuk
menafsirkan pengalaman pribadi mereka. Melalui perumpamaan sederhana seperti “waktu
adalah pisau” atau “kenangan
menjadi hujan”, penyair dapat menghadirkan gambaran yang kuat tanpa
harus menjelaskan secara langsung.
Beberapa komunitas
literasi melaporkan meningkatnya ketertarikan generasi muda dalam mempelajari
teknik metafora. Mereka menilai metafora bukan hanya ornamen, tetapi juga alat
untuk memahami realitas dengan cara yang lebih mendalam. Dengan metafora, puisi
tidak lagi terbatas sebagai karya seni, melainkan menjadi medium refleksi dan
ekspresi diri yang relevan dengan berbagai isu kehidupan.
Para pengamat sastra menyebut tren ini sebagai “gelombang baru sensitivitas bahasa,” di mana puisi tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan. Metafora, menurut mereka, adalah pintu menuju imajinasi tanpa batas yang memberi warna pada kata-kata dan menghadirkan dunia yang hanya bisa dibangun melalui bahasa.
#PBSI_Bermartabat_Berkhidmat