Sastra Digital: Antara Tantangan dan Kebutuhan dalam Pendidikan
Kampus Unesa 5
Magetan kembali menegaskan perannya sebagai ruang tumbuhnya pemikiran progresif
melalui penyelenggaraan kuliah umum yang dirancang untuk memperkuat mutu
akademik dan nalar kritis mahasiswa. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda
perkuliahan tambahan, tetapi menjelma sebagai forum penting yang mempertemukan
mahasiswa dengan para pemikir dari jajaran Dosen Tetap Program Studi (DTPS)
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa Surabaya, para akademisi yang
telah lama dikenal karena ketajaman analisis, luasnya wawasan, serta dedikasi
yang tak pernah pudar terhadap dunia bahasa, sastra, dan pembelajaran modern.
Dalam suasana
yang penuh antusiasme, kuliah umum bertema “Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran
Multiliterasi di Era Media Baru” ini membuka ruang perenungan tentang bagaimana
mahasiswa perlu membaca bukan hanya teks, tetapi juga arus zaman. Di tengah
perubahan teknologi yang melaju tanpa henti, kuliah umum ini hadir sebagai
jembatan yang mempertemukan tradisi akademik sastra dengan dinamika digital
yang mengubah cara manusia berkomunikasi, berkarya, dan belajar.
Pada kesempatan
tersebut, hadir salah satu narasumber yang membawa kontribusi intelektual yang
signifikan: Bapak Yoga Rifqi Azizan, M.Pd., dosen DTPS dari Kampus Surabaya.
Beliau mengampu mata kuliah Sejarah Sastra untuk kelas 2025A serta Teori Sastra
untuk kelas 2025B. Dua mata kuliah yang menuntut ketelitian, kedalaman
refleksi, dan pemahaman historis. Kemampuannya mengelola dua ranah ilmu
tersebut menunjukkan keluasan kapasitas akademik yang patut diapresiasi.
Selama 3 bulan
sebelumnya, mahasiswa hanya dapat belajar dari beliau melalui medium daring,
terbatas oleh jarak dan layar. Oleh sebab itu, pertemuan luring kali ini
menjadi momen yang sangat dinantikan. Kehadirannya secara langsung menghidupkan
dinamika diskusi, menghadirkan suasana belajar yang lebih hangat, serta membuka
ruang interaksi yang lebih intens dan bermakna. Mahasiswa dapat menangkap penjelasan
dengan lebih utuh, ekspresi, tekanan suara, hingga interaksi spontan yang
selama ini tidak mungkin terjadi dalam kelas online.
Dalam
pemaparannya, Bapak Yoga menyampaikan materi mengenai Sastra Digital, sebuah
bidang yang sangat relevan dengan kondisi sastra dan literasi hari ini. Beliau
menggambarkan bagaimana modernisasi menjadikan platform digital sebagai ruang
utama berkembangnya karya sastra. Sastra kini tidak hanya hidup dalam buku-buku
cetak, tetapi meluas ke laman web, media sosial, hingga aplikasi yang membuka
akses baru bagi para pembaca dan pencipta.
Namun, perluasan
ruang ini tidak datang tanpa tantangan. Digitalisasi menghadirkan peluang
sekaligus risiko, mempercepat penyebaran karya, tetapi juga memicu banjir
informasi, memudahkan akses, tetapi juga menguji kedalaman membaca. Dengan
pendekatan yang kritis dan argumentatif, beliau menekankan bahwa pendidikan
sastra digital bukan hanya soal memahami teknologi, tetapi tentang
mempertahankan esensi berpikir, mengolah, dan menafsirkan teks secara mendalam.
Beliau juga
memberikan strategi konkret mengenai bagaimana mahasiswa dapat tetap fokus
dalam membaca di tengah distraksi digital yang tidak ada habisnya. Mulai dari
cara mengatur ritme belajar, memilih bacaan yang berkualitas, hingga teknik sederhana
namun efektif untuk menjaga konsentrasi ketika dihadapkan pada materi akademik.
Pandangan-pandangan yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi
sangat aplikatif sesuai kondisi mahasiswa PBSI.
Cara beliau
membingkai fenomena digital dalam konteks sastra membuat mahasiswa mampu
melihat hubungan antara teori dan realitas. Materi yang dibawakan memantik
kesadaran baru bahwa menjadi mahasiswa sastra di era modern berarti mampu
beradaptasi, tetapi tetap menjaga kedalaman analitis. Inilah yang membuat sesi
kuliah umum tersebut begitu berarti, ia tidak hanya memberi ilmu, tetapi menata
kembali cara berpikir mahasiswa terhadap dunia literasi.
Antusiasme
mahasiswa terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka merasa
mendapatkan perspektif baru yang membuka ruang refleksi lebih luas. Bertemu
langsung dengan narasumber setelah berbulan-bulan belajar secara daring
menghadirkan energi berbeda yang lebih menginspirasi, lebih memotivasi, dan
lebih mendorong mereka untuk mengembangkan kemampuan akademik sesuai bidangnya.
Pada akhirnya,
kuliah umum ini bukan hanya rangkaian penyampaian materi, tetapi momentum yang
menghidupkan kembali semangat intelektual mahasiswa PBSI. Mereka pulang dengan
motivasi baru, untuk membaca lebih kritis, berpikir lebih tajam, dan memahami
bahwa dunia sastra di era digital menuntut kecakapan yang semakin kompleks.
Dengan pemahaman ini, mahasiswa merasa lebih siap menapaki perjalanan
pendidikan sebagai generasi yang mampu berdiri tegak di tengah perubahan zaman.
Kontributor: Ameliza Diva Vanani