Antusiasme Mahasiswa PBSI Kampus 5 UNESA Menjalin Dialog Lintas Budaya Program International Inbound
MAGETAN
— Di
tengah batas antarbangsa yang kian mencair, ruang kelas tak lagi sekadar tempat
belajar yang tertutup. Ia pelan-pelan berubah menjadi ruang perjumpaan, tempat
berbagai perspektif, kebiasaan, dan produk budaya saling bersua. Suasana
semacam inilah yang terasa dalam kegiatan International Inbound Program yang
diselenggarakan Program Studi Sastra Inggris Kampus 5 Universitas Negeri
Surabaya (UNESA), Kamis (5/2).
Kegiatan ini menjadi
bagian dari upaya UNESA Kampus 5 dalam memperkuat jejaring akademik
internasional melalui kelas kolaboratif bersama University of Sydney. Bertempat
di ruang MG1.02.07, Kampus UNESA 5, kegiatan yang terintegrasi dalam mata
kuliah Global Intercultural Communication ini mempertemukan mahasiswa Kampus 5
UNESA dengan 16 mahasiswa dari University of Sydney dalam suasana kelas
internasional yang inklusif.
Pertemuan tersebut tidak
berhenti pada sapaan formal semata, melainkan berkembang menjadi proses belajar
bersama mengenai kebudayaan Indonesia dan Australia. Mahasiswa diajak memahami
apa itu kultur dan bagaimana budaya bekerja dalam kehidupan sehari-hari melalui
pendekatan 3P: Perspective, Practices, dan Products. Pendekatan ini membantu
mahasiswa melihat budaya tidak hanya sebagai konsep, tetapi sebagai pengalaman
yang hidup dan dekat dengan realitas mereka.
Proses pembelajaran
berlangsung santai dan akrab. Selain mendapatkan pemahaman konseptual,
mahasiswa juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas interaktif. Salah
satunya melalui permainan Diversity Bingo, yang menjadi ruang bagi peserta
untuk saling mengobrol, berbagi cerita, dan mengenal satu sama lain. Lewat
percakapan ringan seputar pengalaman dan latar budaya masing-masing, suasana
kelas terasa lebih cair dan hubungan antarpeserta pun mulai terbangun.
Dari interaksi tersebut,
diskusi berkembang secara alami. Kegiatan kemudian berlanjut ke diskusi
kelompok dan presentasi yang dilakukan secara bergilir. Melalui proses ini,
mahasiswa berlatih menyampaikan pandangan, mendengarkan perspektif yang
berbeda, serta merefleksikan kesamaan dan perbedaan budaya secara terbuka.
Kegiatan ini dipandu
oleh dosen Sastra Inggris, Ibu Wirdatul Khasanah, S.S., M.A. Dalam
pengantarnya, ia menyinggung betapa luasnya spektrum kebudayaan yang ada.
“Saking banyaknya kebudayaan, kadang saya sendiri sampai lupa,” ujarnya, yang
mencerminkan kompleksitas sekaligus kekayaan lanskap budaya yang sedang
dipelajari bersama.
Meski diikuti oleh mahasiswa undangan, pertemuan ini menjadi penanda bahwa pembelajaran lintas budaya tidak selalu harus lahir dari ruang yang besar. Dari ruang kelas yang sederhana, dialog global dapat tumbuh dan dirawat melalui percakapan, kebersamaan, serta kesediaan untuk memahami perbedaan.
#PBSI_Bermartabat_Berkhidmat
#PBSI Prodi SDGs